Bagaimana Cara Menentukan Pasangan Hidup?

Bookmark this
Seringkali penulis bertanya kepada pasangan yang sedang berpacaran atau yang ingin menikah, kriteria apa yang mereka gunakan saat memilih pasangan hidup? Meskipun pertanyaannya jelas, namun penulis tidak mendapatkan jawaban yang sesuai dengan pertanyaan yang diajukan. 

Umumnya para pasangan akan menjawab, “kami memang cocok satu dengan yang lainnya,” padahal mereka baru mulai berpacaran selama tiga bulan. Ada pula yang menjawab, “kami memang saling mengerti satu dengan yang lainnya, bahkan kami hampir tidak pernah berselisih paham”. Sementara yang lain lagi menjawab, “dia memang wanita atau pria pilihan Tuhan buat aku.”

Hal-hal seperti ini sangat mengkhawatirkan penulis, karena keributan rumah tangga bukan disebabkan hal-hal seperti yang disebutkan diatas. Sikap dan karakter sebenarnya dari masing-masing pihak sering muncul setelah menikah. Kesabaran, saling mengalah, pengertian, kecocokan yang terlihat saat berpacaran hanyalah semu. 

Kata “maafkan aku”, hampir tidak pernah terdengar gaungnya setelah menikah. Masalah sepele dapat menjadi besar. Perubahan apa yang sesungguhnya terjadi? Kenapa gelak tawa menjadi tangisan, kegembiraan menjadi kesedihan, kepercayaan menjadi kecurigaan?

Hal ini mungkin dapat dihindari bila saja saat berpacaran, orang-orang tidak menggunakan 'topeng'. Karena rumah tangga yang mulai dibentuk melalui pengenalan karakter saat berpacaran akan sangat membantu melajunya bahtera keluarga. 

Bila demikian, lantas bagaimanakah cara memilih teman hidup? Karena manusia terdiri dari roh, jiwa dan tubuh, sebaiknya setiap orang yang ingin membangun rumah tangga sudah terlebih dahulu menyelidiki tentang persamaan yang ada dari roh, jiwa, dan tubuh dari masing-masing pihak yang ingin berpacaran. 

Sebagai tahap awal sebelum menikah, cari tahu terlebih dahulu, apakah anda cocok secara roh? Bagaimana kehidupan rohani masing-masing pihak? Apakah kedua belah pihak mempunyai kepercayaan yang sama? Apakah kedua belah pihak sama-sama ingin melayani Tuhan? 

Bagaimana dengan jiwa, apakah mereka menemukan kecocokan? Apakah sikap marah dan ingin menang sendiri mendominasi salah satu pihak? Lalu, bagaimana dengan tubuh? Jika daya tarik hanya terdapat pada tubuh, tetapi secara roh dan jiwa tidak ada kecocokan. Saat mereka memaksakan diri untuk menikah, maka rumah tangga tersebut akan diwarnai dengan keributan di sepanjang perjalanannya, dan bukan tidak mungkin berakhir dengan perceraian. Jika roh, jiwa, dan tubuh cocok satu dengan lainnya, maka Sang pria sama seperti Adam akan mengatakan, “inilah tulang dari tulangku dan daging dari dagingku” (Kejadian 2:23). 

Bila hanya roh dan tubuh yang cocok, maka kedua belah pihak harus bekerja keras dalam bidang jiwa, agar pernikahan mereka dapat menjadi harmonis. Dan bila jiwa dan tubuh yang cocok, maka kedua belah pihak harus bekerja keras agar roh mereka cocok, dalam pengertian memiliki iman yang sama. 

Kriteria seperti ini akan sangat membantu kedua belah pihak untuk menentukan calon pasangan hidup masing-masing dan terhindar dari masalah-masalah ketidakcocokan setelah menikah. Oleh sebab itu penulis kembali mengingatkan, agar masing-masing pihak saling terbuka dan siap untuk menanggalkan 'topeng' (kedok) yang menutupi jati diri mereka saat-saat berpacaran. 

Adalah jauh lebih baik putus saat masih berpacaran, dari pada menikah namun diakhiri dengan sebuah perceraian yang akan sangat menyakitkan. Karena dampaknya bukan hanya menyerang dua orang, khususnya bagi pasangan yang telah dikaruniai anak. Mereka akan menyandang sebuah peredikat anak-anak ‘broken home’ akibat kedua orang tuanya bercerai. Semoga bermanfaat dan boleh menjadi berkat.


Penulis
Rev.Dr. Harry Lee, MD.,PsyD
Gembala Restoration Christian Church di Los Angeles - California
www.rccla.org

 

Sumber : Harry Lee



 

Mengunduh Artikel

Anda dapat mengunduh artikel yang anda tulis disini untuk menjadi berkat bagi banyak orang. Tulisan anda harus sesuai dengan norma norma dengan ajaran Kristus.