Di “Nol” kan Tuhan


Di “Nol” kan Tuhan
 
Rasul Paulus menulis demikian “Janganlah ada orang yang menipu dirinya sendiri. Jika ada di antara kamu yang menyangka dirinya berhikmat menurut dunia ini, biarlah ia menjadi bodoh, supaya ia berhikmat” (1 Korintus 3: 18).

Paulus sedang menulis tentang dirinya sendiri. Maksudnya biarlah dia menjadi bodoh menurut dunia ini, di ‘nol’kan Tuhan, sampai akhirnya menjadi penuh dengan hikmat Tuhan. Kadang-kadang dalam proses hidup ini, kita perlu di ‘nol’kan oleh Tuhan.

Contohnya adalah Musa. Ia sudah berada di Mesir sejak ia masih bayi, selama 40 tahun. Bahkan ia sudah menjadi orang penting di Mesir. Tuhan yang mempunyai rencana terhadap Musa, justru membawanya ke padang Midian.

Musa melarikan diri ke padang Midian karena tindakannya yang salah, yaitu membunuh orang Mesir, untuk membela orang-orang Ibrani. Perbuatannya ini ternyata diketahui oleh oleh orang Mesir. Ia tinggal di padang Midian selama 40 tahun, dan menggembalakan domba-domba.

Di padang Midian ini, Musa merasa tidak memiliki apa pun lagi. Justru di saat seperti itulah, ketika ia sudah merasa “nol,” Tuhan malah memberikan kepadanya tugas untuk membebaskan umat Tuhan di Mesir. Kondisi yang sedemikan ini menyebabkan Musa menolak panggilan dan tugas dari Tuhan. Ia menyadari bahwa ia sudah empat puluh tahun lamanya berada di padang Midian, dan ia sudah tidak mengenal siapa pun di Mesir.

Kadang-kadang Tuhan mengizinkan orang percaya mengalami proses seperti ini, karena Ia ingin memberikan hikmat kepadanya agar ia menjadi seorang yang dihormati dan dihargai. Proses inilah yang dialami sendiri oleh rasul Paulus.

Yusuf juga mengalami hal yang sama. Ia harus di ”nol”kan oleh Tuhan dengan melewati proses yang cukup berat, dan berakhir di dalam penjara, dan bahkan tidak ada orang yang mengetahui dan mengingatnya, sampai Firaun memperoleh mimpi. Ketika itulah Yusuf diangkat oleh Tuhan, dan akhirnya menjadi seorang mangkubumi, atau menjadi tangan kanan Firaun.

Daud mengalami hal yang sama juga. Ketika ia dipanggil oleh Raja Saul untuk datang ke istananya, Daud bukannya mendekati rencana Tuhan untuk menjadi raja, tetapi malah ia menjadi orang yang dikejar-kejar oleh Saul. Ia berpindah-pindah tempat untuk menghindari pengejaran Saul. Akhirnya, ia pun melarikan diri dan berpura-pura menjadi orang gila. Inilah titik terendah Daud. Ia tidak lagi mempertahankan reputasinya dengan berpura-pura menjadi orang gila. Ia menjadi “nol.” Di saat seperti inilah justru Tuhan mulai bekerja di dalam hidupnya untuk mengangkatnya menjadi Raja atas seluruh Israel.

Be the first to review this item!


Bookmark this

17 Jan 2019


By Leonardo Sjiamsuri, Dr., MTh.

Browse by category