Kehidupan Anak-anak Terang

Bookmark this
February 17, 2019 By Pdt Stephen Tong

Kehidupan Anak-anak Terang – Pdt. Dr. Stephen Tong

Artikel ini disarikan dari khotbah Pdt. Dr. Stephen Tong di GRII Jakarta

 

        Dalam Efesus 5:8-14, sekali lagi Tuhan  menegaskan dan mengingatkan kita akan perbedaan yang terjadi atas diri kita yang berada di dalam Tuhan: dulu kamu adalah gelap dan sekarang kamu adalah terang. Paulus tidak mengatakan: dulu kamu berada di dalam gelap, sekarang kamu berada di dalam terang. Memang status kita sudah diubahkan dari seorang berdosa, sekarang menjadi seorang yang suci di hadirat Tuhan, tetapi dia langsung menyambung dengan kalimat, dulu kamu adalah gelap dan sekarang kamu adalah terang. Kamu adalah terang lebih penting daripada kamu berada di dalam terang, maka Alkitab mengatakan: Yesus adalah terang itu. Di dalam bahasa Yunaninya digunakan bentuk singular – karena Yesus adalah satu-satunya terang. Sebelum Yesus datang ke dunia, filsuf-filsuf berpikir bagaimana hidup di dalam terang dan apa artinya terang. Namun yang mereka pikirkan hanyalah bayang-bayang yang berada dalam imajinasi manusia, sampai ketika Tuhan Yesus datang ke dunia, hidup secara konkrit, memperkenalkan Tuhan Allah kepada manusia.

 

          Dalam Daniel 2 tertulis, Allah hidup di dalam terang. Dia adalah terang yang sejati, Dia memancarkan terang dan Dia sendiri berada di dalam terang yang Dia pancarkan itu. Dia adalah sumber terang dan pengharapan bagi seluruh dunia, sumber terang bagi hidup manusia yang mirip dengan Tuhan, Penciptanya. Semua sifat ilahi berada di dalam terang. Di dalam terang itu juga kita melihat substansi hidup yang berbeda dengan kegelapan. Paulus berkata, dulu kamu adalah gelap dan sekarang kamu adalah terang. Soroasterisme yang kemudian berkembang menjadi Manichaenism mengajarkan, terang dan gelap bertarung tidak henti-hentinya di dalam sejarah, dan karenanya terang dan gelap sama-sama kekal. Mereka percaya pada dua dewa, yaitu dewa terang (Ahura Mazda),  yang menguasai segala kebaikan dan dewa gelap (Anggra Mainyu), yang menguasai segala kejahatan. Kedua dewa itulah yang menguasai nasib dan hidup manusia. Orang Kristen tidak percaya adanya persamaan substansi dari kedua kekuatan itu, tidak percaya bahwa setan dan Tuhan mempunyai kekuatan yang sama. Karena kita percaya bahwa Allah adalah Allah yang dari kekal sampai kekal, Dia mengizinkan kebebasan menjadi dasar moral dari oknum-oknum yang dicipta, sehingga mereka boleh berbuat menurut kemauannya. Pada waktu kemauan diwujudkan dalam pemberontakan terhadap Allah yang sejati dan Esa, saat itulah kejahatan diizinkan terjadi. Itu berarti kejahatan tidak mempunyai substansi yang sama dengan Allah, dan eksistensinya juga bukan dari kekal sampai kekal. Inilah perbedaan terbesar antara Kristen dengan agama-agama yang menganut dualisme.

 

          Pada waktu Agustinus berumur 20 tahun, dia mendengarkan khotbah yang disampaikan oleh pendeta dari agama Manichaenismtentang adanya pertarungan antara kebaikan dan kejahatan di dalam hati manusia. Itulah yang menyebabkan manusia berada di medan peperangan dan diperebutkan oleh dua dewa itu. Anak orang Kristen yang doktrinnya tidak kuat itu langsung tertarik dan menyetujuinya, bahkan memilih Manichaenism sebagai agamanya. Selama hampir 10 tahun Agustinus terjerumus di dalam agama yang tidak beres itu. Tetapi puji Tuhan yang menyelamatkan dia keluar dari ajaran yang tidak beres itu dan akhirnya menjadi seorang pejuang apologetika yang terbesar di sepanjang sejarah untuk melawan semua doktrin yang tidak benar. Tuhan dan kegelapan itu tidak sama. Di dalam kekekalan, semua kejahatan akan diadili oleh Tuhan yang baik, dan yang terang tinggal kekal sampai selama-lamanya.

 

          Dengan pengertian yang konsisten seperti inilah iman kita tidak digoncangkan oleh keadaan, melainkan tetap bersandar kepada Tuhan. Untuk itu, Agustinus memberikan satu kesimpulan: kejahatan bukan sesuatu yang bersubstansi kekal, melainkan sesuatu yang kehilangan kebajikan. Bagian yang hilang itu menjadi bagian yang negatif. Pemikiran ini perlu dimengerti secara filosofis. Di sini terdapat selembar kertas yang utuh, yang mempunyai empat sudut: sudut kanan atas, sudud kiri atas, sudut kanan bawah, dan sudut kiri bawah. Keempat sudut inilah batasan dari kertas ini. Kertas ini merupakan kesempurnaan yang terbatas. Tetapi saat saya tidak memperhatikannya, seseorang merobek sebagian dari sudutnya. Sewaktu saya kembali, saya menemukan kertas itu sudah menjadi lima sudut. Itu berarti ada bagian yang terhilang. Kalau saya tanyakan, “Apakah ini?” Saudara akan menjawab, “kertas.” “Apakah sempurna?” “Ya.” Tetapi menurut saya kertas itu sudah tidak sempurna lagi. Mengapa? Karena saya melihat terlebih dahulu, maka saya tahu ada bagian dari kertas ini yang sudah hilang. Yang dimaksud dengan hilang adalah dulu kertas itu sempurna, tapi sekarang sudah tidak sempurna lagi. Sungguhkah ada bagian yang hilang? Ada. Yang mana? Bagian yang hilang adalah bagian yang tidak berada di sana lagi. Maka apa yang disebut dosa, jahat, gelap memang ada. Ada di mana? Di tempat di mana terang tidak bisa mencapainya, di bagian yang kurang, yang tidak ada lagi.

 

          Paulus berkata: dulu kamu adalah gelap, sekarang kamu adalah terang. Jadi bukan Saudara berada di dalam terang-Nya saja, melainkan Saudara adalah terang – you are the light of the world. Allah memakai istilah-istilah dengan sangat teliti. Dia tidak mengatakan, Saudara adalah lampu dunia. Apa bedanya Saudara adalah lampu dunia dengan Saudara adalah terang dunia? Lampu terbagi dalam kelas yang berbeda-beda. Ada lampu yang harganya mencapai 50 juta, 100 juta, bahkan ada yang satu milyar rupiah per buah. Juga ada lampu tempel yang murah harganya. Alkitab mengatakan Saudara adalah terang dunia, tak peduli terang itu adalah terangnya lilin, terangnya lampu tempel, atau terangnya lampu Vienna, Venezia, pokoknya terang, karena di dalam terang tidak ada perbedaan kelas.

 

 

          Tahukah Saudara, waktu Allah menciptakan segala sesuatu, Dia memulainya dengan menciptakan terang – let there be light? Kata Paulus,, kamu bukan gelap lagi, kamu adalah terang. Paulus mengingatkan orang Kristen di Efesus agar mereka menyadari siapakah dirinya, our substance, our essence, our position – status kita, posisi kita, substansi kita adalah terang. Kalau kita mengerti kebenaran ini dengan tuntas, dengan sendirinya kita akan hidup sesuai dengan status kita sebagai terang. Jika ada hal yang takut diketahui oleh orang, berarti ada ketidakberesan. Itu adalah hal yang gelap. Gelap tidak pernah mempunyai mempunyai tempat di dalam Tuhan, karena Tuhan itu terang adanya. Tuhan mengutus terang untuk mengusir kegelapan dan menyinari mereka yang hidup di tengah kegelapan, yang berada di bawah bayang-bayang maut. Tuhan mengutus, memerintahkan orang keluar dari bayang-bayang maut untuk masuk ke dalam terang.

 

          Waktu Joseph Haydn, diminta seseorang untuk menulis musik tentang Tuhan mencipta, the Creation; orang itu berpesan, gubahan musik yang ditulis harus berbeda dari musik George Fredric Handel. Kalimat: Allah berfirman, “jadilah terang, maka terang itu ada”; janganlah diulang, hanya satu kali saja. Haydn berpikir mati-matian, bagaimana caranya agar musik gubahannya tidak sama dengan gubahan Handel yang kaya dengan variasi, conterpunk dan model barok. Setelah dia selesai menulis, dia melatih orkestra dan oratorio. Pada waktu pementasannya, dia khusus datang untuk mendengarkan bagian itu. Seorang muridnya yang kurang menghormati dia – Ludwig van Beethoven menyaksikan pementasan itu dengan pertanyaan: apakah yang masih ada pada guru saya yang tua ini, yang masih bisa saya pelajari? Waktu Haydn mendengar kalimat, “And God said, “Let there be light!” muncul, “And there was light.” seakan-akan pada saat itu terjadilah suatu perubahan besar dari kegelapan, kekosongan menjadi terang. Air matanya jatuh bercucuran. Serta merta dia berdiri dan berteriak, “Itu bukan dari saya! Itu bukan dari saya, melainkan dari Tuhan.” Lalu Haydn jatuh pingsan. Yang kemudian menolongnya adalah Beethoven yang akhirnya mengakui bahwa gurunya ternyata masih hebat. Yang ingin saya sampaikan di sini adalah Haydn mengerti kalimat: dari gelap terbitlah gelap. Apakah perbedaan terang dengan gelap? Kita adalah orang yang menamakan diri Kristen, jangan menyandang nama itu hanya karena kita dilahirkan di dalam keluarga Kristen atau karena kita pernah mendengar khotbah yang disampaikan oleh pendeta yang terkenal, melainkan karena kita pernah dibawa keluar oleh Tuhan dari status gelap kepada status terang. Kita pernah jahat dan egois, tetapi Tuhan mengubah kita menjadi orang yang menyangkal diri, memikul salib, mengenal Kristus dan hidup sebagai wakil Tuhan.

 

          Kalau Saudara adalah terang, apa jadinya? Bacalah ayat 8: hiduplah sebagai anak-anak terang, sehingga orang lain menyaksikan perbedaannya: orang ini selalu bercahaya, jujur, benar, transparan. Mengapa rakyat menginginkan transparansi? Karena tuntutan manusia: terang lebih baik daripada gelap, transparan lebih baik daripada gelap-gelapan. Bacalah ayat 9: karena terang hanya membuahkan kebajikan, keadilan, dan kebenaran. Terjemahan bahasa Indonesia ini mungkin memberikan pengertian yang salah. Sepertinya terang hanya membuahkan tiga macam buah, padahal maksudnya adalah terang hanya mungkin membuahkan hal yang baik, tidak mungkin membuahkan yang jahat. Maka yang dimaksudkan dengan: hanya membuahkan … adalah jaminan kualitas: kebaikan – goodness, keadilan – righteousness dan kebenaran – truth.

 

          Kebaikan, keadilan dan kebenaran akan keluar dari anak-anak terang. Jika kejujuran terdapat pada diri orang yang beragama lain, bukan karena mereka mengikuti teladan yang berasal dari hati mereka yang sudah mempunyai sumber hidup yang benar, melainkan karena mereka sudah mempelajari kebenaran yang seharusnya ada pada diri orang Kristen dari segi etika. Jujur, adil merupakan sesuatu yang penting. Apakah yang dipakai oleh orang Yunani untuk melukiskan dewa keadilan? Yaitu seorang dewa yang membawa timbangan yang sama beratnya, tidak memihak salah satu sisi. Tetapi dewa itu menutup matanya dengan kain, sehingga dia sendiri tidak melihat timbangan itu. Artinya dia tidak memihak siapa-siapa, semua orang boleh menilai apakah keputusan yang dia ambil itu adil.

 

          Keadilan, kebenaran, kebajikan disebut sebagai buah terang. Adakah kita adil, jujur, baik di dalam kelakuan kita? Adakah motivasi yang tidak baik di dalam hati kita? Jika ada, kiranya Tuhan mengampuni kita. Gereja adalah milik Tuhan, contributed by all belongs to none. Everybody, every nation can come and kneel down and worship before God, but no one suppose to monopolize the church.

 

          Jika kita menggunakan dua lampu sorot yang masing-masing menghasilkan cahaya besar, adakah batasan di antara kedua cahaya ini? Tidak ada, karena terang bisa membaur dengan begitu harmonis, hingga tidak dapat dipisah-pisahkan lagi. Karena Saudara adalah anak terang, maka hiduplah di dalam terang, hasilkan buah-buah terang, karena Tuhanmu adalah terang dan Saudara telah dijadikan terang. Saya kira tidak ada bagian lain dari seluruh tulisan Paulus yang membahas terang lebih jelas daripada bagian ini.

 

          Kalimat dalam ayat 10 terdapat juga di Roma 12:2. Terjemahan lain, “Bolehlah saudara selidiki dan uji, sehingga mengerti apakah kehendak Allah yang baik, apa yang berkenan kepada Allah, apa yang kudus dan apa yang diperkenan Allah.” Artinya lakukanlah hal-hal yang berkenan kepada Tuhan, jangan segan-segan menolak hal yang tidak berkenan kepada-Nya. Kita harus mengerjakan segala sesuatu yang sesuai dengan tuntutan Tuhan, to think after God’s thinking, to act after God’s action, to feel after God’s feeling, to know after God’s knowledge, to work in accordancde with the World revealed by God.

 

          Ayat 11: Jika ada orang mengajakmu untuk bersekongkol, berpartisipasi di dalam pikiran dan rencana yang gelap, Saudara harus menolak, bahkan harus berani menelanjangi. Menelanjangi kejahatan adalah satu satu tugas dan fungsi daripada terang Alkitab mengatakan: kamu adalah terang. Terang mempunyai satu fungsi yang luar biasa, mengusir kegelapan sekaligus menyatakan cacat cela yang ada. Waktu saya mengetahui terang (cahaya) mempunyai kecepatan tiga ratus ribu kilometer per detik, saya membayangkan, kalau saya berada di dalam satu ruang yang seratus persen tertutup, lalu saya menyalakan lampu, maka kegelapanpun hilang, artinya terang mengusir kegelapan. Tetapi ke mana larinya? Saya tidak bisa mengerti kecuali dengan satu kalimat di Alkitab, gelap ditelan oleh terang, mati ditelan oleh hidup. Maka kalau dikatakan Saudara adalah terang, artinya Saudara harus bisa menelan, menghapus, mengusir kegelapan. Kalau tidak diusir, ya dinyatakan saja. Di tempat yang gelap, semua yang berwarna hitam tetap hitam, yang berwarna putih juga hitam. Tetapi di tempat terang nyatalah dengan jelas, yang putih adalah putih, yang hitam adalah hitam.

 

          Paulus menganjurkan orang Kristen yang hidup di dalam terang untuk bertindak dengan berani sekali, yaitu menelanjangi segala kejahatan, artinya melaporkan dengan sungguh apa yang telah terjadi. Yesus berkata, rahasia yang kau katakan di dalam kamar, tak lama kemudian akan dibongkar di atap rumah. Artinya semua perkara yang kita kira bisa kita rahasiakan akhirnya akan terbongkar. Karena kegelapan tidak mungkin menang atas terang, yang ada hanyalah terang mengalahkan kegelapan. Maka sebagai orang Kristen yang hidup di dalam sejarah, kita menyaksikan dua hal:

  1. Bagaimana kejahatan bersekongkol.
  2. Dalam jangka waktu yang panjang, bagaimana terang membongkar segala kejahatan.

 

          Paulus mengajak orang Kristen menelanjangi segala siasat kejahatan. Bacalah ayat 12. Maksud ayat ini adalah: hanya menyebut apa yang mereka perbuat dengan sembunyi-sembunyi saja sudah malu, apalagi kalau ikut berpartisipasi dengan orang-orang yang merencanakan kejahatan di dalam kegelapan, itu adalah dosa besar. Saudara tidak boleh berbuat itu, karena Saudara adalah terang. Saudara harus jujur, adil, benar, baik, karena itulah buah-buah terang. Kamu (orang Kristen) adalah terang, hasilkan buah-buah terang.

Ps Stephen Tong
Pdt Stephen Tong

 

Sumber: Majalah MOMENTUM No. 39 – Maret 1999

Written by

Pdt Stephen Tong



 

Mengunduh Artikel

Anda dapat mengunduh artikel yang anda tulis disini untuk menjadi berkat bagi banyak orang. Tulisan anda harus sesuai dengan norma norma dengan ajaran Kristus.