Komunikasi, Bukan Hanya Sekedar Kata-Kata

Bookmark this
June 01, 2016 By Harry Lee, M.D., Psy.D.

Komunikasi, Bukan Hanya Sekedar Kata-Kata (1)

Tuhan tidak pernah menciptakan manusia dengan tujuan untuk hidup sendiri, karena itu kepada Adam Tuhan memberikan Hawa agar mereka saling dapat mengisi kekosongan hidup mereka dengan berkomunikasi dan berbagi beban. Dalam kehidupan bermasyarakat komunikasi merupakan sarana yang terpenting untuk mendapatkan informasi. Kehidupan bermasyarakat ini dimulai dari keluarga. Apakah anda pernah memperhatikan hadirnya seorang bayi ditengah-tengah satu keluarga? Apakah anda pernah memperhatikan perilaku kedua orang tua dari bayi yang baru lahir tersebut? Apakah anda juga memperhatikan perilaku anggota keluarga seperti kakek, nenek, paman, bibi dari bayi yang baru lahir tersebut? Bagaimana pula dengan perilaku para sahabat kedua orang tua yang berbahagia tersebut? Gambaran apa yang terlihat jelas saat mereka melihat ataupun mencoba untuk menggendong bayi tersebut? Apakah mereka hanya diam-diam saja ataukah mereka mencoba untuk berkomunikasi dengan bayi tersebut? Apakah bayi dapat berkomunikasi sekalipun belum bisa bicara?

Komunikasi bukan hanya terbatas pada kemampuan menggunakan bahasa yang dimengerti manusia. Bahasa tubuh, expresi wajah, bahasa isyarat semuanya adalah bentuk komunikasi yang dapat dipergunakan untuk menyampaikan pesan kepada orang lain sebagai lawan bicara. Sungguh suatu beban berat yang dapat menggangu kesehatan mental jika ada orang yang dikucilkan tanpa diberi kesempatan untuk boleh berkomunikasi. Dalam pernikahan komunikasi merupakan pertukaran informasi yang sangat penting yang dapat dicapai melalui e-mail, surat, percakapan melalui telfon, mengirim pesan melalui teks dalam bentuk pesan singkat, imoticon dan sebagainya. Apakah anda pernah mendengar pernyataan seperti, "Saya dan Suami sudah tidak berkomunikasi lagi sejak dua minggu terakhir ini"? Apakah mungkin orang tidak berkomunikasi satu dengan yang lainnya meskipun tinggal dibawah satu atap? Mari kita renungkan kebenaran yang akan saya paparkan kepada anda sekalian. Sekalipun isteri sudah tidak berbicara dengan suaminya pada saat sarapan ataupun saat menikmati makan bersama, sebenarnya inipun adalah bentuk komunikasi dimana salah satu pihak sedang mengirimkan pesan tanpa berbicara. Jadi tidak berbicara adalah suatu bentuk komunikasi karena berita terselubung sedang disampaikan. Makanan yang disajikanpun adalah sarana komunikasi. Apakah anda dapat melihat kebenaran ini?

Komunikasi dapat disampaikan dalam bentuk bahasa yang sederhana, padat, singkat dan nyata tanpa bertele-tele, seperti misalnya: "Saya ingin secangkir teh"; "Saya ingin tidur"; "Saya haus dan lapar"; "Saat ini sedang hujan deras". Sekalipun singkat si pengirim berita telah menyampaikan pesannya secara jelas dan dapat dimengerti oleh lawan bicara. Ada kalanya sekalipun berita yang disampaikan singkat, padat, jelas dan nyata, nada suara dapat memberikan pengertian yang berbeda. Dengan demikian si penerima berita dalam suatu percakapan bukan hanya menerima pesan yang disampaikan dalam bahasa yang sederhana tapi nada suara juga ikut memegang peranan penting dalam menyampaikan berita. Selain nada suara, panci yang di hentak-hentakkan saat di cuci ataupun pintu yang dibanting saat ditutup dapat mengirimkan pesan yang sangat nyata kepada suami atau isteri sekalipun mereka tidak berkomunikasi secara lisan.

Jika perilaku dapat dipakai sebagai sarana untuk berkomunikasi mengapa sementara orang gagal untuk melihat bahwa komunikasi tidaklah sama dengan bahasa lisan ataupun bahasa yang tertulis untuk menyampaikan pesan berita. Hendaklah setiap pasangan suami-isteri jeli menangkap pesan berita dari kata-kata yang tidak terungkapkan yang disampaikan dengan perilaku yang bersifat menjauh, bahasa tubuh, expresi wajah, bahasa isyarat dan sebagainya. Mengirim bunga mawar misalnya adalah suatu komunikasi yang disampaikan untuk mengakhiri perang dingin dengan pesan berita, "Aku Mengasihimu, Maukah Engkau Memaafkan Aku"? Selanjutnya peran serta isteri yang menerima bunga mawar tersebut sangat menentukan perjalanan kehidupannya sebagai suami dan isteri. Apakah ia akan menerima ungkapan maaf sang suami dengan menempatkan bunga mawar yang diterimanya pada tempat khusus yang akan menjadi pusat perhatian setiap orang yang berkunjung kerumahnya dan dapat mengagumi keindahan bunga mawar tersebut. Jika bunga mawar tersebut ditaruh di dalam dapur, sang isteri sebetulnya sedang mengirimkan pesan kusus kepada suaminya, "Pernyataan Maafmu Belum Masuk Kehatiku", apalagi jika bunga mawar tersebut langsung dimasukkan kedalam tempat sampah, pesannya menjadi sangat jelas bagi sang suami. Bukankah ini semua merupakan pilihan yang dapat diambil oleh sang isteri?

Apakah anda pernah berpikir untuk merenungkan buah pikiran yang ada namun tidak terucapkan dibalik kata-kata yang disampaikan oleh suami ataupun isteri? Misalnya, setelah dua minggu berturut-turut sang suami sibuk di kantor menjelang tutup tahun sehingga selalu pulang larut malam dan pada akhirnya pada suatu petang ia pulang lebih awal dan berkata, "Enak juga ya bisa pulang pagian dari kantor hari ini". Apakah anda dapat membaca pikiran yang tidak terungkapkan dibalik kata-kata dari kalimat diatas yang disampaikan sang suami? Pesan apa sebetulnya yang terdapat dibalik kata-kata yang disampaikan? Isteri yang bijaksana akan mengerti bahwa suaminya sedang menyampaikan suatu berita penting, yaitu: "Aku Ingin Istirahat". Jika demikian kenapa sang suami tidak langsung saja menyampaikannya dengan berterus terang, "Aku Ingin Istirahat". Mengerti akan apa yang terjadi selama dua minggu terakhir, sekalipun lelah, siapa tahu sang isteri ingin keluar rumah karena sudah bosan selama dua minggu terakhir dirumah. Karena itu sang suami dalam berkomunikasi memberikan suatu ruangan kusus kepada isteri yang dikasihinya untuk memberikan tanggapannya, dengan pengertian bahwa ia sudah siap untuk diajak keluar - inipun adalah pilihan yang diambil sang suami, suatu sikap yang netral namun penuh dengan pengertian.

Dengan demikian saya ingin menyampaikan, ada beraneka ragam cara untuk berkomunikasi, pilih yang terbaik! Semoga bermanfaat.

 

Komunikasi, Bukan Hanya Sekedar Kata-Kata (2)

Beraneka ragam cara berkomunikasi telah penulis jelaskan dalam tulisan penulis minggu lalu yang di tayangkan dengan judul "Komunikasi, Bukan Hanya Sekedar Kata-Kata (1)". Hari ini penulis ingin melanjutkan apa yang telah penulis mulai jabarkan minggu lalu dengan satu pertanyaan yang ada dalam alam pikiran penulis yaitu, "Peran Serta Bad Day Dalam Komunikasi". Sebelum penulis melanjutkan tulisan ini, penulis ingin bertanya kepada Anda sekalian yang membaca artikel penulis hari ini, apakah "Bad Day" (Hari Buruk) itu sesungguhnya ada? Bukankah Tuhan yang menciptakan semua hari (Senin sampai Minggu) mengatakan bahwa hari-hari yang diciptakanNya baik adanya? Kalau Tuhan yang menciptakan semua hari mengatakan baik adanya, dari mana datang pernyataan Hari Buruk itu? Apakah harinya memang buruk, atau masalah yang dialami orang bersangkutan tanpa solusi yang nyata menimbulkan pernyataan Hari Buruk? Harinyakah yang buruk atau orang yang mengalami sedikit gangguan atau masalah pada hari tersebut memberikan label kepada hari tersebut sebagai buruk atau bad day. Dengan demikian kita memisahkan dua sudut pandang, dimana hari tetap baik karena diciptakan Tuhan, orang yang memandangnya yang sedang mengalami masalah. Jadi bukan hari tapi manusianya.

Apakah "Hari Buruk" ini mempunyai kuasa sedemikian rupa sehingga dapat mempengaruhi pola komunikasi dalam keluarga? Jika anda mengikuti perasaan murung Anda karena masalah yang Anda hadapi di kantor misalnya dan melampiaskan kejenuhan Anda, kemarahan Anda, kemurungan Anda pada anggota keluarga dengan komunikasi yang tidak jelas ujung pangkalnya, bukankah Anda sedang berkata bahwa Anda tidak bertanggung jawab terhadap sikap Anda terhadap keluarga? Bukankah Anda juga sedang menyampaikan pesan bahwa sesungguhnya anggota keluarga Andalah yang bertanggung jawab untuk menyelesaikan masalah yang Anda hadapi? Bukankah Anda sedang berkata tolong saya dimengerti karena saya sedang mengalami "Hari Buruk"? Dengan demikian lagi dan lagi Anda sedang berkata bahwa Anda tidak bertanggung jawab terhadap sikap Anda tapi "Hari Buruk"lah yang bertanggung jawab terhadap sikap Anda sehingga anda bersikap seperti Anda bersikap. Apakah benar demikian?

Mari kita renungkan sejenak tentang "Hari Buruk" atau "Bad Day" ini. Apakah selama delapan jam dikantor Anda mengalami masalah dengan rekan sekantor atau dengan pimpinan Anda? Jika Anda jujur mungkin perlakuan kasar dari rekan atau pimpinan Anda hanya berlangsung selama lima menit. Sisa dari waktu yang lebih dari tujuh jam baik adanya. Bagaimana Anda dapat memberikan label "Bad Day" terhadap hari yang Anda lewati yang mayoritasnya baik adanya. Bukankah harinya sendiri tetap baik adanya (konstan), cuma pengalaman yang Anda alami pada hari itu kurang baik adanya. Anda tidak berkuasa untuk mengontrol perilaku orang lain tapi Anda berkuasa penuh bagaimana meresponi perilaku orang lain terhadap Anda. Anda bertanggung jawab sepenuhnya terhadap perilaku Anda.

Saat dikantor Anda menduduki jabatan sebagai pegawai, saat dirumah posisi Anda berubah menjadi isteri, suami, anak, adik atau kakak. Anda berkewajiban berperilaku seperti posisi Anda saat Anda berada dirumah, Anda tidak dapat berkomunikasi secara kasar dengan memberikan alasan "Saya Sedang Mengalami Bad Day". Selanjutnya Anda mempunyai tanggung jawab untuk tidak membawa pulang masalah yang ada dikantor dan melemparkannya pada anggota keluarga yang tidak ikut terlibat dalam masalah yang ada. Sebaiknya Anda mempersiapkan diri Anda dengan berpikir secara jelas sebelum masuk kedalam rumah bahwa posisi anda dirumah bukanlah atasan yang berhak membentak-bentak anggota keluarga Anda. Jangan jadikan anggota keluarga anda korban kemarahan Anda / korban frustasi Anda dengan melemparkan tanggung jawab kepada "Bad Day" Anda, seakan-akan "Bad Day" lah yang bertanggung jawab terhadap sikap Anda dan bukan Anda selaku pelakunya. Komunikasi yang jelas berdasarkan kasih akan menimbulkan keharmonisan dalam rumah tangga Anda.

Pada akhirnya Andalah orang yang paling bertanggung jawab sepenuhnya untuk mengizinkan diri Anda menjadi korban atau pemenang, karena apa yang Anda izinkan untuk diam dalam alam pikiran Anda, itu juga yang akan menentukan bagaimana Anda akan berperilaku. Seorang yang memiliki mental pemenang mengerti dengan jelas posisinya, menyelesaikan masalah yang ada tanpa menunda-nunda dan memperlakukan orang lain disekitarnya termasuk anggota keluarganya tanpa memproyeksikan kemarahannya ataupun frustrasinya dan dapat berkomunikasi dengan jelas tanpa kemarahan.

Penulis mengajak Anda sekalian untuk memikirkan kembali pola komunikasi atau cara Anda berkomunikasi dan pastikan bahwa Anda ingin membuat suatu perubahan yang dapat membawa dampak yang sangat positif dilingkungan dimanapun Anda berada. Jika Anda sudah mengambil suatu inisiatif untuk berubah tapi belum membuahkan hasil, jangan putus asa, kembangkan daya kreatifitas Anda untuk mencapai tujuan akhir Anda yaitu berkomunikasi secara sehat dalam membangun lingkungan yang harmonis.

 

Penulis

Rev.Dr. Harry Lee, MD.,PsyD

Gembala Restoration Christian Church di Los Angeles - California

www.rccla.org

 

 

Written by

Harry Lee, M.D., Psy.D.



 

Mengunduh Artikel

Anda dapat mengunduh artikel yang anda tulis disini untuk menjadi berkat bagi banyak orang. Tulisan anda harus sesuai dengan norma norma dengan ajaran Kristus.