Pengalaman Misi Di Negri Brasil

Bookmark this
June 27, 2015 By Media Kristen

Sejak tahun 1965,waktu saya masih di sekolah INSTITUT INJIL INDONESIA , di Batu Malang ,Jawa Timur Indonesia, saya telah bercita- cita untuk pergi ke Brasil.

Banyak diantara teman -teman saya yang tidak setuju.Mereka tidak mau kalau saya berimigram ke Brasil.

Mereka bilang untuk apa harus pergi jauh -jauh sampai ke Brasil? Saya katakan :Karena saya merasa terpanggil untuk  memberitakan kabar baik,tentang Yesus Kristus,kepada bangsa Brasil. Teman saya katakan : Di Indonesiapun banyak orang yang belum mendengar kabar keselamatan, istimewa di pedalaman Kalimantan atau pedalaman  Papua.Untuk apa harus jauh jauh sampai ke Brasil?

Juga ada tantangan dari pihak keluarga.Ada yang mengatakan : Keluarga sendiri ada banyak yang belum bersungguh- sungguh menjadi orang kristen.Untuk apa ke Brasil?

Juga ada yang bilang untuk apa harus sampai ke Brasil? Di Jakarta juga dapat melayani Tuhan.

     Saya merenungkan apa yang dikatakan baik oleh teman teman maupun oleh keluarga ada benarnya juga.Tetapi untuk saya pribadi mengapa saya mau ke Brasil?

Karena saya yakin ada panggilan Tuhan untuk saya ke sana.

Dulu bangsa Indonesia telah menerima Missionaris dari luar negeri.Joseph Kham pernah sampai di Maluku. Nomensen pernah sampai di Tanah Batak.Mengapa bangsa Indonesia tidak bisa pergi ke pada bangsa lain?

Melalui mereka yang sedia berkorban, kami bangsa Indonesia banyak yang sudah diberkati.Banyak hal yang baik mereka wariskan di bumi Indonesia tercinta.

Masa kami hanya mau menerima?

     Sekaranglah waktunya untuk kami menunjukkan dan menyaksikan bahwa Tuhan juga mau memakai bangsa kami Indonesia untuk menjadi berkat bagi dunia ,termasuk Brasil.Berdasarkan keyakinan ini,maka saya setelah selesai sekolah dan setelah 10 tahun berdoa,saya bersama istri saya,SELFINTJE JOCBETH  AY , putri  Rote NTT kami memutuskan pada tahun 1975,untuk berimigran ke Brasil.

    Tuhan Yesus berkata ; Barang siapa mengasihi bapa  atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barang siapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku ia tidak  layak bagi-Ku. Barang siapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku,ia tidak layak bagi-Ku.Barang siapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya. dan barang siapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.(Matius 10:37-39).

                    

SUKA DUKA DALAM PERJALANAN.

Pada pertengahan bulan Juni tahun 1975, kami berangkat dari Jakarta dengan AEROFLOT penerbangan milik Rusia ke Moskow. Kami memilih Aeroflot karena murah.

Pada waktu istri saya Selfintje/Celia dalam keadaan hamil 6 bulan. Ini kehamilan yang  pertama. Perjalanan dari Jakarta ke Moskow sangat menyenangkan.Keadaan cuaca bagus sekali.Pesawat mendarat jam 6 pagi di Moskow. Kami pikir, kami akan segera diantar ke hotel. Tetapi ternyata tidak demikian. Kami harus menunggu berjam-jam.Hal ini mulai melelahkan, teristimewa buat istri saya yang dalam keadaan hamil.

      Setelah ada yang protes,karena terlalu lama menunggu, jam 12 siang mereka mulai memperhatikan para penumpang yang transit termasuk kami berdua dan menyediakan bis untuk jalan-jalan ke kota.  Kurang lebih dua jam kemudian, kami kembali lagi kebandara. Kami baru sampai di hotel jam 3 sore. Kami transit di Moskow selama tiga hari.

      Dari Moskow kami terbang ke Jerman. Kami tiba di Frankfurd. Dari sini kami mengunjungi teman-teman di Vokenhausen. Banyak diantara mereka yang pernah tinggal di Indonesia. Dari Vokenhausen kami diantar oleh seorang ibu dengan mobil ke Adelshofen. Kami tinggal beberapa hari disana. Kami diundang untuk menyampaikan firman Tuhan dalam satu kebaktian yang diadakan ditempat ini.            

      Setelah semua acara selesai kami teruskan perjalanan ke Belgia. Perjalanan juga dengan mobil. Kali ini kami bersama 3 mahasiswa. Dua orang Jerman dan 1 orang Prancis. Perjalanan ini banyak suka dan dukanya. Selain merasa lelah, juga menghadapi banyak persoalan dengan visa dan passport. Hal ini benar-benar melelahkan kami, khususnya Selfin yang dalam keadaan hamil.                           

       Waktu kami sampai di perbatasan Belgia, mobil berhenti didepan polisi untuk pemeriksaan.Teman-teman yang dari Jerman dan Prancis tidak perlu visa. Tapi kami yang dari Indonesia harus punya visa baru bisa masuk ke Belgia. Kami tidak mendapatkan informasi mengenai hal ini. Untuk Jerman pemegang paspor Indonesia tidak perlu visa. Kami pikir di Belgia atau Prancis juga sama.Soalnya kami hanya transit. Ternyata harus ada visa.

       Kami diberi alamat oleh polisi untuk kembali ke Jerman yaitu dikota Achan untuk urus visa. Pada waktu kami sampai disana, ternyata Konsulat Belgia sudah tutup kantornya, karena sudah jam 4 lewat. Sekarang apa yang harus kami kerjakan? Kami semua sehati untuk berdoa. Kami memohon belas kasihan Tuhan, supaya polisi tadi dapat menolong kami, Teman-teman dari Jerman berdoa dalam bahasa Jerman. Yang dari Prancis berdoa dalam bahasa Prancis. Kami berdua berdoa dalam bahasa Indonesia. Syukur Tuhan mengerti semua bahasa.

       Setelah berdoa, kami mencoba untuk masuk lagi. Dari jauh polisi yang sama masih di tempatnya. Dengan tersenyum kami serahkan paspor kami. Kami berdua waktu itu hanya pakai satu paspor. Apa yang terjadi? Polisi yang sama menerima paspor, tetapi tidak buka, tidak korek-korek sedikitpun. Langsung dikembalikan kepada kami dan dengan tersenyum ia mengatakan Welcome / selamat datang di Belgia dan selamat jalan.

   Para pembaca yang tercinta dapat membayangkan? Betapa hati kami penuh suka cita . Haleluya.

Setelah sampai di pompa bensin kami berhenti sebentar.Sekarang semua boleh bernafas legah.Syukur kepada Tuhan dinaikkan dalam berbagai bahasa.

     Beberapa menit kemudian kami berangkat lagi.Sesudah beberapa kilo meter,saya merasa ada kehilangan sesuatu.Tiba-tiba saya teringat paspor.Pada waktu saya bertanya di mana paspor? Peter yang dari Jerman,mengatakan : tadi waktu berhenti,saya melihatnya. Setelah saya masukan dalam tas, tas itu saya letakkan di atas mobil.Pada waktu mobil mau berangkat,saya lupa memasukkannya lagi  ke  dalam mobil.Wah, saya katakan : Pasti sudah jatuh..

kami kembali lagi ke pompa bensin untuk mencari.Setelah bertanya - tanya tidak ada satu orangpun yang menemukannya. Sekarang kami dalam keadaan bahaya.

Apa yang harus kami perbuat? Pertama- tama sekali lagi semua berdoa.Sesudah itu kami lapor ke Polisi.Setelah kami tiba di kantor Polisi,dari jauh kami melihat tas kami sudah ada di atas meja.

Moses,teman kami dari Perancis,mengatakan : Pak, tas yang di atas meja itu adalah milik Sem dan Selfin.Tadi tas itu jatuh di jalan.

Para Polisi yang bertugas di situ tidak ada seorangpun,yang bertanya- tanya mengapa sampai tas itu hilang dsb? Tetapi langsung mempersilakan kami untuk mengambilnya.

Puji Tuhan, paspor itu tidak dilihat,apakah ada visa atau tidak? Sekiranya mereka menemukan tidak ada visa didalamnya,mungkin sekali kami dapat dipersulit.

Syukur , puji Tuhan.Damai sejahtera,kembali memenuhi hati dan jiwa kami.

Benar benar suka dan duka silih berganti dalam perjalanan kami.

     Kami teruskan perjalanan kami ke Brussel dengan penuh sukacita. Di sana ada konferensi untuk anak -anak muda selama satu minggu.

Sesudah selesai konferensi kami teruskan perjalanan ke London/ Inggris, via Perancis.Perjalanan juga dengan mobil.Di Perancis paspor kami dilihat tapi tidak dipersoalkan.Polisi hanya berkata: Lain kali harus ada visa baru bisa lewat. Terima kasih Pa langsung kami jalan.

     Setelah menyebrang dengan Ferry dari Perancis  ke Doper/ Inggris akhirnya kami tiba di Bulstrode sebuah kota kecil dekat London.

Mengapa kami ke sana? Karena pada waktu kami berangkat dari Jakarta,visa kami untuk Brasil walaupun sudah keluar, tetapi tidak bisa ambil di Jakarta.Waktu itu Kedutaan Brasil untuk sementara ditutup.Jadi kami pikir lebih baik kami ke London untuk bertemu dengan teman teman,sekaligus mengambil visa di London.

     Sebelum mengambil visa,harus cek kesehatan terlebih dahulu.Syukur semua jalan lancar.Dokter mengatakan : Kamu harus cepat- cepat berangkat jangan sampai bayi nanti lahir di pesawat terbang.Dokter bilang : kalau bayi lahir di pesawat terbang ,tidak tau nanti mau jadi warga negara apa?

Oleh sebab itu setelah visa diambil,kami langsung berangkat ke Brasil.

Dari London, transit di Amsterdam,lalu ke Liberia,dan akhirnya pesawat mendarat dengan selamat di kota Rio de Janeiro.

 

PENGALAMAN WAKTU TIBA DI RIO de JANEIRO 

Karena kami telah menerima informasi, bahwa kami akan tiba di Brazil waktu musim dingin, kami telah siapkan pakaian khusus untuk musim dingin, satu koper penuh. 

Tuhan kembali menguji iman kami waktu kami tiba di Rio de Janeiro.  Semua barang-barang kami sampai dengan selamat. Tapi heran kopor yang berisi pakaian khusus untuk musim dingin, baju-baju panas dan lain sebagainya tidak ada. Secara manusia kami bertanya-tanya mengapa sekarang musim dingin tapi kopornya hilang?

Saya teringat betul petugas KLM di bandara di Rio de Janeiro mengatakan: Jangan khawatir, kopornya mungkin terbawa ke Santiago di Cili. Petugas mengatakan silakan kasih alamat lengkap dengan nomor telepon dan kalau sudah di temukan, kami akan kirim.

Di Rio de Janeiro, ada teman yang datang menjemput kami. Jarak dari Rio de Janeiro ke Belo Horizonte yaitu pusat Misi di Brazil WEC ( WorldWide Evangelization Crusade), dengan mobil kira-kira 5 atau 6 jam. Teman kami tidak membawa mobil. Jadi kami harus naik bis. Waktu musim libur, jadi banyak orang bepergian. Kami harus menunggu cukup lama di terminal bis.  Istri saya yang dalam keadaan hamil, harus mengadakan perjalanan yang panjang dari London-Amsterdam- Liberia - Rio De Janeiro nampaknya capek sekali. Apalagi harus menunggu lama di terminal bis, benar-benar meletihkan.

Sesudah sore hari baru dapat bis dan tempat duduknya pun jauh di belakang.  Saya hanya berdoa, supaya Tuhan memberikan perlindungan, kekuatan, sukacita, damai sejahtera baik untuk saya, teristimewa untuk Manisku tercinta beserta bayi yang ada dalam rahimnya.

Melalui jalan yang berliku-liku dari Rio de Jainero, akhirnya kami sampai di terminal bis di kota Belo Horizonte. Disana ada dua teman dari Misi WEC yang sudah siap dengan mobil untuk menjemput kami. Perjalanan masih tinggal hampir 1 jam lagi baru sampai di rumah misi. Pada waktu sampai di rumah misi, hari sudah larut malam. Walaupun kami cukup letih lesu, namun hati dan jiwa kami penuh dengan pujian kepada Tuhan.  Kami sampai di Brazil pada pertengahan bulan Juli tahun 1975. Saya selalu mengingat pertama kali saya berdoa untuk Brazil tahun 1965. Jadi tepat 10 Tahun berdoa, baru kaki kami menginjak negara Brazil.

Sulit untuk menggambarkan dengan kata-kata kami yang terbatas betapa hati dan jiwa kami penuh melimpah dengan pengucapan syukur kepada Tuhan. Melalui banyak tantangan, melalui banyak perrgumulan, bahkan melalui air mata, akhirnya kami sampai pada tanah perjanjian alias Brazil yang kami cintai. Puji Tuhan terpujilah ALlah Tuhan Yesus Kristus.

Kira-kira satu minggu kemudian, ada berita gembira.  Kopor kami yang hilang sudah kembali. Silakan datang ambil. Oh, benar-benar Tuhan baik. Segala kehormatan, Kemuliaan hanya bagi Raja segala raja HALELUYA.

 

PENGALAMAN  WAKTU  BELAJAR BAHASA  PORTUGIS. 

Pengalaman waktu belajar bahasa portugis, rasanya berat tetapi kami tidak menyerah.  Tahun pertama di Brazil khusus untuk belajar bahasa Portugis. Guru kami sama sekali tidak tahu bahasa Inggris apalagi bahasa Indonesia. Jadi kami berdua belajar bahasa Portugis, tanpa bahasa pengantar.

Ini tidak mudah bagi semua missionaris. Inilah masa yang benar-benar diuji. Kami diuji kesabaran.

Seperti saya misalnya yang biasa melayani di Indonesia, waktu pertama kali sampai di Brazil, rasa seperti orang bisu. Istri saya di waktu hamil tua, tapi harus juga belajar bahasa Portugis

     Pada suatu hari, kami bersama teman missionari dari Amerika mengunjungi satu keluarga Brazil. Teman kami namanya Betty Clover. Ia sudah lama di Brazil dan sudah lancar berbahasa Portugis. Kami berangkat bersama-sama. Waktu kami tiba di depan pintu rumah di keluarga Brazil yang kami kunjungi, tiba-tiba keluar seorang anak kecil yang berusia sekitar 6 atau 7 tahun. Putri kecil itu cantik sekali dan suka bergaul. Jadi pada waktu kami sampai, di depan  pintu ia sudah mulai omong. mungkin ia katakan selamat datang, apa kabar? tapi karena saya tidak tahu apa yang harus saya omong, maka saya diam saja. Apa yang putri kecil itu katakan? Ia berlari masuk mendapatkan tantenya dan berkata kepada tantenya, mari lihat ada satu bapak yang datang sama istrinya tapi dia bisu.

Demikianlah pengalaman kami sebagai misionaris pada tahun pertama atau pada minggu-minggu pertama, benar-benar seperti orang bisu.  Waktu berjalan terus. Tiga bulan kemudian, tiba waktunya untuk istri saya mau melahirkan.

   Syukur ada teman misionari namanya Silvia, orang Kanada yang mengantarkan kami ke Rumah Sakit.  Waktu itu kami belum juga berkomunikasi dengan bahasa Portugis.

Puji Tuhan dokter yang menolong istri saya dapat berbahasa Inggris.  Dokter Flavio namanya. Saya ingat malam itu beliau memberikan kamarnya untuk saya tidur.  Karena setelah istri saya melahirkan, sudah malam sedangkan jarak ke rumah misi cukup jauh.

Dengan pertolongan Tuhan, istri saya melahirkan dengan selamat anak kami yang pertama seorang laki-laki dan di beri nama ISAQUE HATTU.

   Sebagai Misionaris kami diberi fasilitas yang baik yaitu di rumah sakit Injili dengan biaya yang sangat rendah. Puji Tuhan. Beberapa minggu setelah Isaque lahir, kami berdua harus mulai belajar bahasa Portogis bersama dengan guru. Tidak mudah. Kami harus jalan kaki. Guru kami tidak terlalu jauh tinggalnya dari tempat kami. Tetapi menuju ke sana harus mendaki.sambil menggendong Isaque.

Puji Tuhan Anugerah -Nya cukup untuk kami bertiga. “ Tak Berkesudahan Kasih Setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmat -Nya. Selalu baru tiap pagi, besar kesetiaan - Mu! ‘’ (Ratapan 3:22-23)

  Di Akhir minggu, kami tidak belajar dengan guru. tapi kami diberi tugas keluar mengunjungi keluarga orang Brazil, supaya dapat mempraktekkan apa yang telah kami belajar. Ini kesempatan yang bagus. Selain praktekan bahasa, juga mencari jiwa.

Kami sangat bersukacita, pada suatu hari dalam kujungan kami, ada satu keluarga yaitu Ibu Maria bersama seisi rumahnya menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat mereka pribadi.  Tuhan ajaib. Walaupun dengan bahasa patah-patah tapi Roh Kudus bekerja. Puji Tuhan.

     Dalam tahun pertama secara khusus kami berkonsentrasi untuk belajar bahasa. Disela-sela belajar bahasa, saya mendapat kesempatan di Gereja Presbiteriana untuk membawa Firman Tuhan . Dengan bahasa Portogis saya belum mampu. Tetapi dengan bahasa Inggris, saya berani berkhotbah.  Jemaat tidak ada yang dapat berbahasa Inggris tetapi syukur, ada seorang pemuda, bapaknya orang Inggris juga sebagai misionari, dapat  menjadi penterjemah buat saya. Ini kesempaan yang sangat indah untuk penyegaran. Sehingga tidak hanya belajar sepanjang hari tapi juga bisa melayani.

     Kami juga ingat dalam tahun pertama, kami mendapat kunjungan khusus dari Bapak DR. Petrus Octavianus. Beliau datang jauh-jauh dari Indonesia mengujungi kami di Brazil. Apa yang terjadi waktu Bapak Octavianus ada di Brazil? Misi WEC Brazil mengadakan satu kebaktian khusus untuk para pendeta dan para pemimpin gereja.

Kebaktian diadakan di Gereja Baptis di kota Belo Horizonte. Malam itu yang hadir ada sekitar 200 orang. Pada waktu kebaktian sudah selesai, ada seorang pendeta yang tinggi dan berbadan besar mendekati saya. Beliau ingin berkenalan dengan kami berdua. Mula-mula beliau bertanya: Saudara dari mana? Saya terkejut, karena ada orang yang bertanya kepada saya dalam bahasa Indonesia! Saya menjawab dari Indonesia. Ia bertanya lagi dari Indonesia mana? Saya jawab. saya dari Ambon. Orangnya masih bertanya lagi dari Ambon mana? Saya jawab saya dari Saparua, Langsung Ia menjawab mama tiri saya juga dari Saparua. Oh, Luar biasa Tuhan. Jauh di ujung bumi ada orang yang dapat berbahasa indonesia. Singkat ceritra bapak tersebut bernama ALberto Emmel. Aslinya dari Belanda tapi pernah tinggal di Surabaya selama 50 Tahun. Pada waktu pak Emmel pulang ke Belanda, Ia tidak merasa betah di negara yang kecil dan dingin. lalu merantau lagi ke Brazil. Setelah sampai di Brazil, pak Emmel menikah dengan orang Brazil. Istrinya bernama Dona Esmeralda. Meraka mempunyai seorang putri namanya Desire. Karena sudah lama di Brazil, Pak Emmel sudah mulai lupa bahasa Indonesia. Di kota dimana Pak Emmel tinggal , tidak  ada orang Indonesia. Itulah sebabnya beliau hampir lupa bahasa Indonesia. Sejak perjumpaan dengan pendeta Emmel, di akhir minggu seringkali kami di bawa untuk berkhotbah di banyak gereja, khususnya di kota Belo Horizonte. inilah kota nomor 3 terbesar di Brazil. Disini ada banyak sekali gereja. Sebab itu Pak Emmel membawa kami kemana-mana untuk melayani.

     Suatu waktu kami di bawa oleh Pak Emmel ke kota Rio De Janero. Karena kami masih belajar bahasa, maka saya berkhotbah dalam bahasa Indonesia dan Pak Emmel menterjemahkan dalam bahasa Portogis.

Saya ingat ada pengalaman yang lucu. dalam suatu Gereja pernah dalam khotbah saya katakan: Tuhan adalah Gembala yang Baik. Pak Emmel menterjemahkan: Tuhan Yesus adalah Jalan dan  Kebenaran dan Hidup. Ok, tidak apa-apa yang penting firman Tuhan diberitakan, apakah itu Mazmur 23;1 atau Yohanes 14:6, yang penting Pak Emmel katakan Firman Allah.

      Demikianlah pengalaman kami pada tahun pertama. Walaupun banyak pergumulan dengan belajar bahasa, tetapi Anugerah Tuhan selalu cukup dan selalu baru bagi keluarga kami. Ditengah-tengah pergumulan, selalu kami ingat dimana-mana khusus di indonesia, ada banyak saudara yang mendukung kami dengan doa. Hal itu memberikan semangat dan menambah motivasi untuk kami terus maju dalam melayani Tuhan di Brazil. Demikianlah pengalaman kami dalam belajar bahasa Portugis walaupun rasanya berat, tetapi kami tidak menyerah.  Segala kehormatan dan Kemuliaan hanya bagi Tuhan. Haleluya.

Written by

Media Kristen



 

Mengunduh Artikel

Anda dapat mengunduh artikel yang anda tulis disini untuk menjadi berkat bagi banyak orang. Tulisan anda harus sesuai dengan norma norma dengan ajaran Kristus.