Sebuah Keputusan Yang Merubah Hidup

Bookmark this
July 26, 2015 By Rev. Dr. Harry Lee

Sebuah Keputusan Yang Merubah Hidup

Sang surya memancarkan sinarnya seiring dengan merekahnya fajar dipagi hari yang indah. Keramaian kendaraan di jalan-jalan mulai mewarnai kota menandakan adanya suatu kehidupan. Jeritan ceria anak-anak bermain disekolah tidak sanggup menghapuskan penderitaan yang di alami Sophia saat-saat ia berada di rumah. Terjangan matahari yang menyakiti kulit di siang hari tidak sesakit penderitaan penolakan yang dialami Sophia hari lepas hari.

Kedua orang tua Sophia menyerahkan Sophia kepada Jeanne bibinya, adik ibu Sophia, saat Sophia baru lahir karena Jeanne mendambakan seorang anak. Jeanne telah di vonis "mandul" oleh dokter karena kelainan pada kandungannya. Saat menerima Sophia dipelukannya, Jeanne merasa sangat berbahagia. Namun kebahagiaan ini tidak berlangsung lama. Memasuki umur lima tahun Sophia mulai diperlakukan dengan kasar. Tiada hari yang dilewati Sophia tanpa kutukan dari Jeanne maupun Robert suaminya. Pukulan demi pukulanpun menjadi makanan Sophia setiap hari.

Pada saat Sophia berumur tujuh tahun, Jeanne memberikan suatu tugas baru bagi Sophia. Selepas sekolah Sophia harus membantu mengurus ternak mereka serta membersihkan rumah. Sophia hanya diperkenankan tidur saat semua pekerjaan telah selesai dikerjakannya. Saat jam menunjukkan jam empat sore pada hari Rabu itu, Jeanne berkata kepada Sophia untuk segera mandi. Sophia bingung karena tidak biasanya ibu angkatnya ini menyuruhnya mandi jam empat sore. Ada apa ya, demikianlah Sophia bertanya dalam hatinya? Bukankah aku hanya diizinkan mandi setelah lampu dipadamkan yang menandakan bahwa kedua orang tua angkatku ini telah tidur?

Saat ini Sophia sudah berumah tangga, ia menikah dengan seorang pemuda pilihan hatinya. Ben demikian nama panggilan akrab suaminya. Mereka dikaruniai seorang anak laki-laki yang mereka beri nama Christopher. Saat Penulis mengunjungi keluarga ini, Christopher sedang disekolah. Sophia mengambil kesempatan ini dengan memaparkan seluruh penderitaan yang dialaminya sejak masa kecilnya disertai dengan tangisan yang memilukan hati. Suatu jeritan kepahitan yang sangat menyakitkan dari seorang anak kecil yang terperangkap dalam tubuh seorang dewasa. Sophia sesungguhnya tidak mengenal apa yang lazim disebut orang sebagai masa kanak-kanak.

Anda tahu kenapa saya disuruh mandi jam empat sore? Demikianlah Sophia melanjutkan kisahnya kepada penulis yang siap memberikan telinga untuk mendengarkan kepahitan hidup yang dialaminya. Penulis bertanya balik, kenapa Sophia?  Hari itu hujan lebat diluar dan saya baru selesai menyapu dan ngepel lantai. Sebetulnya saat itu saya lagi bersiap-siap untuk pergi membereskan kandang babi, ketika tiba-tiba Jeanne ibu angkat saya menyuruh saya mandi. Sekalipun merasa heran saya segera mandi dan berpikir "akhirnya saya mendapat kesempatan untuk beristirahat lebih awal". Tapi impian saya segera buyar karena saat saya keluar dari kamar mandi setelah selesai mandi sebuah tamparan yang keras melayang kewajah saya. Jeanne sang ibu angkat sedang naik pitam karena ia menemukan sebutir debu diatas lantai yang baru di pel Sophia. Jeanne menyuruh Sophia untuk menjilat lantai itu dan membersihkannya dengan sikat gigi kepunyaan Sophia.

Jiwa saya (Penulis) berontak saat mendengarkan cerita Sophia, namun Penulis harus sanggup menahan diri agar dapat menjadi seorang pendengar yang baik. Apakah anda dapat merasakan kepahitan hati yang diderita Sophia? Apakah anda dapat merasakan sakitnya perlakuan Jeanne si ibu angkat terhadap Sophia? Bukan hanya sekedar siksaan fisik yang dialami Sophia, tapi lebih dari itu, ia mengalami siksaan mental yang berat. Batin Sophia sangat tertekan, namun ia tidak berdaya melawan ataupun bertanya kepada sang ibu kenapa ia sampai diperlakukan seperti itu.

Saat Penulis bertanya kepada Sophia, apa yang ia rasakan saat itu, Sophia menjawab "memang saya yang salah" andaikan saya berhati-hati dalam menyapu dan ngepel tentu tidak ada debu yang tertinggal; jadi sudah sepatutnya saya menerima tamparan itu agar lain kali saya lebih berhati-hati. Dan bagaimana dengan hari ini apakah anda masih berpikiran bahwa anda layak menerima perlakuan seperti itu? Sophia tidak banyak bercerita lagi, ia memberikan sebuah jawaban yang singkat, katanya: "Sejak dua tahun terahir ini saya memutuskan untuk mengampuni Jeanne ibu angkat saya". Apakah pengampunan ini sudah membebaskan anda Sophia? Ya, saya memutuskan untuk membebaskan diri saya dari penjara kebencian agar saya bebas mengasihi Ben suami saya dan Christopher anak kami tanpa hambatan apapun juga.

Tahukah anda tidak terlalu banyak orang yang berani melangkah untuk mengambil keputusan seperti yang dilakukan Sophia yaitu mengambil keputusan untuk mengampuni. Mengampuni itu adalah tindakan pembebasan bagi Sophia bukan bagi Jeanne si ibu angkat. Sophia telah mengakhiri hidupnya sebagai korban dan menggantikannya dengan mental dan karakter seorang pemenang. Pada akhir perjumpaan Penulis pada sore hari itu Penulis mengatakan kepada Sophia: "Saya sangat bangga dengan anda Sophia yang sudah menunjukkan kepada saya pada hari ini bagaimana caranya hidup berjiwa besar - jiwa seorang pemimpin". Pada kesempatan ini Penulis ingin mengajak anda sekalian yang mungkin pernah mengalami perlakuan kejam dalam hidup anda seperti yang dialami Sophia untuk berani melangkah dalam mengambil keputusan untuk mengampuni, karena pada akhirnya hidup itu adalah pilihan. Anda sekalian mempunyai kuasa untuk memutuskan apakah anda tetap memilih untuk hidup dengan mentalitas korban atau mengganti haluan hidup anda dengan mentalitas pemenang dan menikmati hari-hari anda sebagai pemenang. Ambil tindakan untuk mengampuni pada hari ini, kebahagian sedang menunggu anda.

Catatan Penulis:

Nama-nama yang Anda sekalian temukan pada tulisan ini adalah nama samaran, jika ada nama yang kebetulan sama dengan nama Anda, itu semata-mata adalah faktor kebetulan dan tidak ada hubungannya dengan cerita ini. Cerita ini ditulis semata-mata untuk semua dari kita boleh bersama-sama belajar mengambil sikap yang terpuji, yaitu sikap untuk mengampuni setulus hati. Semoga cerita ini bermanfaat dan boleh menjadi berkat!

Penulis

Dr. Harry Lee, M.D., Psy.D.

Gembala Restoration Christian Church di Los Angeles - California

www.rccla.org

 



 

Mengunduh Artikel

Anda dapat mengunduh artikel yang anda tulis disini untuk menjadi berkat bagi banyak orang. Tulisan anda harus sesuai dengan norma norma dengan ajaran Kristus.